Everything Will be Fine


Mursyiha

Everything Will Be Fine

Oleh : Kurnia

 

     Alarm di gawai ku berbunyi sekaligus adzan berkumandang tanda sekarang sudah masuk waktu shubuh. Aku bergegas ke kamar mandi ambil wudhu lalu melangsungkan shalat. Selesai shalat aku lanjut mandi. Setelah selesai mandi, aku ingin mengganti pakaian dikamar namun kulihat sosok yang tengah sujud dan berserah diri di pangkuan Ilahi itu tengah menikmati tiap gerakkan yang dilakukan.  Aku tersenyum sekaligus terharu melihat pemandangan ini, matanya yang sendu tak lepas dari menatap sajadah yang terhampar dan mulutnya yang kecil tak berhenti berdoa. Mukena yang dipakainya menambah kesan yang semakin dalam bahwa dia adalah calon penghuni surga kelak, Insyaa Allah.

     Selesai dia shalat selesai juga aku berganti pakaian. Kuhampiri dia dan kuutarakan keinginanku untuk membuat profil nya menjadi bagian dari tugas kuliahku. Tentu tidak ku katakan kenapa aku memilihnya dan dia pun tidak bertanya juga. Andai dia bertanya, akan kujawab karena dia adalah inspirasi bagiku, bagaimana caranya menyelesaikan masalah membuatku bangga memiliki sosok seperti dia. Dan dia itu adalah ibuku. Sosok yang merawatku dari kecil, pundaknya yang mulai membukuk itulah pundak yang sering mengendongku ke sekolah saat ditempat kami banjir dan hujan.

     Aku sering mendengarkannya bercerita tentang masa mudanya dulu ketika kami berkumpul sesama wanita dirumah. Dia anak tertua dari banyak bersaudara, namun yang masihh hidup sampai sekarang hanyalah sisa delapan orang. Dia dulu juga bersekolah, namun karena keadaan ekonomi yang kurang baik serta banyaknya adik yang harus dijaga, dia terpaksa berhenti dan lebih memilih menjaga adik-adiknya sekaligus berkerja sedikit membantu kedua orang tuanya.

     Untuk ukuran seorang anak yang tidak lulus sd memang susah untuk mencari pekerjaan yang layak.  Dia pernah menoreh karet dan menanam padi untuk makannya dan adik-adiknya. Dia menikmati masa kecilnya, walaupun serba kekurangan namun kedekatannya dengan adik-adik dan kedua orang tuanya membuat dia memiliki hati dan punggung yang kuat untuk bertahan.

     Masih berbekas di ingatan ini ketika dia bercerita tentang masa muda nya dulu dengan wajah yang bahagia dan menandakan rindu yang teramat dalam. Sebelum melanjutkan cerita, dia terdiam sejenak lalu mulai bercerita lagi bagaimana dia bisa bertahan sampai sejauh ini dengan wajah yang sendu. Dia melanjutkan hubungan yang baik dengan adik beradik dan orang tua adalah hal yang utama. Karena sejauh manapun kita pergi, kita akan kembali kepada yang namanya keluarga.

     Kalimat ini membuat saya tersentuh. Bagaimana tidak, apa yang dia ucapkan adalah sebuah fakta yang tidak dapat kita pungkiri. Sekaya apapun kita, sejauh manapun kita berada, ketika ada masalah maka keluarga lah pertama yang kita hubungi dan jumpai. Dari sini dapat dilihat betapa besar dia mencintai keluarganya. Bahkan sampai sekarang pun itu tidak lepas dari ingatannya.

     Lalu dia melanjutkan ceritanya bagaimana dia bertemu dengan sosok lelaki yang akan menjadi surganya kelak dan sebagai pendamping selama sisa hidupnya. Yaa, itu adalah ayahku. Cinta pertama dalam hidupku. Seseorang yang bertubuh baja namun berhati selembut kapas. Namun saat ingin melanjutkan ceritanya, dia malah berhenti dan terdiam.

     Tak lama kemudian dia akhirnya buka mulut namun bukan sesuatu yang ingin ku dengar. Dia hanya mengatakan bahwa saat itu dia berumu 18 tahun dan suaminya berumur 21 tahun. Dia tak ingin melanjutkan ceritanya lagi, namun aku tetap bersikukuh untuk mendengarkkan kisah hidupnya. Dia berkata “lanjut besok lagi lah ceritanya, ini lagi sibuk bantuin kakak mu”.

     Malamnya kulihat dia sudah terlelap di kamarku, kutatap wajahnya yang mulai menua. Hidungnya  yang dulu mancung dan gagah kini sudah sendu kebawah. Matanya yang dulu segar, kini sudah mulai pudar, telinganya yang dulu sangat jeli namun kini sudah kurang teliti. Aku meneteskan air mata melihat pemandangan ini.

     Sosok malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan untukku. Namun dulu pernah ku lawan dan bentak karena tidak terpenuhinya keinginanku. Karena saat itu aku hanyalah bocah ingusan yang hanya memikirkan keinginan tersendiri tanpa memperdulikan orang lain. Dan sekarang aku sadar, betapa susahnya menjadi seorang ibu yang dituntut bisa melakukan banyak hal, namun harus tetap kuat tanpa ada kelemahan sedikitpun.

    Aku kembali menangis setelah merenungi sikapku padanya selama ini. Aku marah pada diriku sendiri bagaimana aku bisa tidak menyadari semua ini. Dia terbangun dalam tidurnya karena mendengar tangisan anak kecilnya ini. Aku lalu memeluknya dan tidur disampingnya.

     Hari minggu tepatnya jam 8 pagi aku menghampirinya di pondok belakang rumah. Aku ingin dia melanjutkan ceritanya kemarin. Namun sepertinya  dia sudah lupa sampai mana dia bercerita. Dan untungnya aku masih mengingat sampai mana dia bercerita kemarin.

     Dia melanjutkan bagaimana kehidupannya setelah menikah. Dia dan suaminya tinggal dirumah bekas ayah mertuanya yakni orang tua dari ayahku. Dia membangun keluarga kecilnya disini. Suaminya berkerja apa yang bisa dia lakukan mulai dari pergi ke PT, berangkat ke Malaysia, menjadi ojek, dan lain-lain. Sementara ibuku membantu keuangan suaminya dengan menoreh dan bertani.

     Tahun 1997, mereka sudah dikaruniai lima anak namun yang tersisa hanya tiga orang, dua laki-laki dan satu wanita. Tahun berikutnya saat terjadi kerusuhan di Sambas, dia sangat takut sekali dimana saat itu dia sedang mengandung dan suaminya sedang berada di Malaysia. Lalu dia pergi ke rumah ayahnya untuk berlindung. Sekedar informasi, saat kerusuhan terjadi banyak orang yang menaiki kapal untuk berlindung namun dia malah pergi ke rumah ayahnya karena dulu rumah ayahnya adalah tempat berlindung yang tepat, entahlah mengapa dia juga tidak tau namun yang pastinya orang-orang ramai berlindung disana.

     Namun dia juga beruntung karena kalau dia ikut kapal untuk kabur, mungkin dia tidak akan bertemu  lagi dengan suaminya dan hidup sampai sekarang. Lalu setelah kerusuhan itu dan lahirnya anak dikandungannya yang ternyata kembar laki dan perempuan, dia mulai membuka usaha dengan berjualan kue Bahulu. Pembuatannya sangatlah lama dan juga hanya dapat sedikit karena dulu proses pembuatannya masih manual dengan mengunakan tungku api dan hanya bisa satu sampai dua cetakan saja dimana cetakan itu hanya terdiri dari empat sampai enam buah. Tahun 2001 dia hamil kembali dan lahirlah saya yang sekarang.

     Dan dia sangat bersyukur karena usahanya ini berjalan lancar sampai sekarang, bahkan dia tidak menyangka kalau usaha nya ini bakal sampai dibawa keluar kota dijadikan sebagai oleh-oleh dari sambas. Dengan usahanya inilah anaknya semua habis sekolah 12 tahun. Dan ada beberapa yang selesai kuliah dan dilanjutkan dengan saya sekarang.

     Dia selalu bilang “ingat, selalu bersyukur atas apa yang didapat. Jangan mudah mengeluh, pantang menyerah, selalu sayangi keluarga dan adik beradik. Ketika sudah sukses jangan lupa dengan perjuangan dari orang sekitar, dan jangan lupa untuk selalu sedekah jika ada rezeki lebih. Selalu berdoa kepada Allah, minta yang baik-baik kepada-Nya. Cerita kepada mak dan ayah atau kakak abangmu kalau misalkan lagi ada masalah  agar  dapat diselesaikan secara baik dan segera. Semua akan baik-baik saja jika kamu dan adik-beradik saling terbuka satu sama lain.”*

 

Komentar