Aku dan Kampung Halaman
Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Perkenalkan namaku Kurnia,
seorang anak yang hanya bisa mengeluh dan merengek ketika bertemu masalah. Aku tinggal
disebuah desa yang banyak ditinggali juga oleh keluarga besarku. Ya, keluarga
besarku. Ibuku punya 11 saudara namun hanya dia dan ketujuh saudaranya yang
masih diizinkan mencari bekal untuk di akhirat kelak. Sedangkan ayahku? Dia mempunyai
delapan saudara dan sekarang hanya tinggal dia sendiri yang bertahan.
Aku lahir dan dibesarkan di desa
yang membuatku mengerti betapa pentingnya keluarga daripada uang yaitu desa
Kartiasa. Aku dibuat merasakan bagaimana orang-orang zaman dulu mendapat uang
serta keluarga baru, yaitu menureh. Didesa, kami menyebutnya dengan “nangkal”. Nangkal
merupakan mengambil getah dari pohon karet yang kemudian di biarkan beberapa
hari sampai getah itu mulai mengeras baru di jual.
Saat kecil, aku senang sekali
bermain masak-masakan bersama sepupuku. Kami mengambil tanaman geli untuk kami
jadikan bahan masakan. Sampai-sampai pernah, kami tidak menemukannya lagi
karena tiap hari selalu kami ambil tanaman itu.
Didesaku, kami sangat menjunjung
tinggi budi bahasa dan nilai kekeluargaan. Terutama di dekat rumahku. Saat ada
satu rumah yang sedang acara perkawinan atau sejenisnya, maka satu RT yang akan
membantu baik yang wanita maupun laki-laki. Ketika ada pekerja yang sedang
melakukan perbaikan jalan di RT kami, tetanggaku dan tentu saja orang dirumahku
membuat air es dan mengeluarkan beberapa kue yang ada dirumah untuk diberikan
kepada para pekerja yang membetulkan jalan. Sampai pernah salah satu pekerja
bilang kalau baru ini mereka di berikan air bahkan kue nya sekalian, karena
sebelumnya mereka kalau tidak diberi desa ya membeli sendiri.
Ibu-ibu di RT kami juga
kadang-kadang melakukan makan bersama atau kami menyebutnya “semakanan”. Mereka
membawa makanannya masing-masing dari rumah dan di saprahkan di lantai, lalu
mereka akan membuat lingkaran dan mengajak anak-anak untuk ikut makan bersama.
Aku bangga tinggal disini, aku
harap semakin maju teknologi rasa kekeluargaan ini takkan luntur.

Komentar
Posting Komentar